Back to Home
2026-02-13Wahyu Puji

Apakah Coding Hanya untuk Anak IT?

Apakah Coding Hanya untuk Anak IT?

Dulu waktu pertama kali masuk kuliah Ilmu Komunikasi, saya sama sekali tidak kepikiran bakal kerja di bidang IT. Jujur saja, dunia coding waktu itu terasa jauh. Saya lebih kebayang kerja di media, branding, atau mungkin di dunia public relations. Paling banter ngurusin advertising, campaign, atau main di desain grafis.

Di kelas, kami sering diskusi soal bagaimana sebuah pesan bisa memengaruhi orang, bagaimana membaca audiens, sampai bagaimana membangun narasi yang kuat. Saya menikmati proses itu. Rasanya masuk akal dan dekat dengan keseharian.

Kalau ada yang bilang nanti saya bakal pusing mikirin bug, komponen, state, atau API, mungkin saya cuma ketawa.

Tapi hidup memang sering membawa kita ke jalur yang tidak kita rencanakan.

Saya dulu kuliah Ilmu Komunikasi. Hari-hari saya diisi dengan teori tentang bagaimana menyusun pesan, membaca audiens, membangun narasi, dan memastikan sebuah ide bisa diterima dengan utuh oleh orang lain. Waktu itu saya tidak pernah membayangkan akan menghabiskan banyak waktu memikirkan komponen, state, API, atau mencari satu koma yang hilang di antara ratusan baris kode.

Hari ini saya bekerja sebagai front end web developer.

Perjalanan itu membuat saya semakin yakin bahwa pertanyaan apakah coding hanya untuk anak IT sebenarnya lebih banyak lahir dari persepsi dibandingkan kenyataan. Dunia pemrograman sering terlihat seperti ruang eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang kuliah di jurusan tertentu, jago matematika, atau terbiasa hidup di laboratorium komputer. Padahal, ketika dijalani, coding lebih mirip keterampilan kerja yang bisa dipelajari secara bertahap dan konsisten, sama seperti menulis, mendesain, atau berbicara di depan umum.

Mengapa Coding Sering Dianggap Milik Anak IT

Ada dua hal yang menurut saya membuat kesan itu melekat.

Pertama adalah faktor lingkungan. Di kampus atau sekolah, pemrograman biasanya diperkenalkan secara formal di jurusan tertentu. Dari situ terbentuk pola pikir bahwa jalur masuknya hanya satu. Jika tidak melewati pintu itu, seolah tidak punya hak untuk berada di dalamnya.

Kedua adalah bahasa teknis yang terdengar asing. Istilah seperti framework, runtime, dependency, atau asynchronous sering membuat orang langsung merasa itu bukan dunianya. Padahal jika dibedah pelan, banyak konsep teknis sebenarnya hanya istilah baru untuk pola yang sudah kita kenal dalam kehidupan sehari-hari.

Asynchronous misalnya, pada dasarnya adalah melakukan beberapa hal tanpa harus menunggu satu per satu selesai. Sama seperti memasak sambil menunggu air mendidih.

Masalahnya bukan pada konsepnya, tetapi pada cara pengenalannya yang sering terlalu cepat dan terlalu padat untuk orang yang datang dari luar dunia IT.

Coding sebagai Bahasa, Bukan Identitas

Saya lebih nyaman melihat coding sebagai bahasa. Bukan identitas, bukan gelar, dan bukan label sosial.

Belajar bahasa pemrograman tidak jauh berbeda dengan belajar bahasa asing. Di awal kita salah struktur, salah tata bahasa, salah pengucapan. Lama-lama kita mulai paham pola. Dalam coding, kesalahan bahkan lebih jelas karena sistem langsung memberi tahu bahwa ada yang tidak beres. Memang menyebalkan, tetapi sekaligus mempercepat proses belajar.

Yang menentukan bukan bakat bawaan, melainkan seberapa sering kita terpapar konsep baru, berlatih membuat sesuatu, salah lalu memperbaiki, dan mengulang siklus itu dengan sabar.

Penutup

Saya tidak pernah menyangka jalur saya akan sampai ke dunia front end. Tapi sekarang justru di sinilah saya belajar paling banyak.

Coding bukan soal identitas anak IT atau bukan. Coding adalah keterampilan. Dan seperti keterampilan lainnya, ia terbuka bagi siapa saja yang mau belajar, bertahan, dan terus memperbaiki diri.

Share:

Recommended Articles

Burnout Programmer karena Deadline dan Overwork? Ini Solusinya

Burnout Programmer karena Deadline dan Overwork? Ini Solusinya

2026-02-24

Burnout syndrome adalah kondisi kelelahan fisik dan mental yang sering dialami programmer, terutama karena deadline dan overwork. Artikel ini membahas pengalaman nyata dan solusi praktis mengatasinya.

11 min read
Read more
5 Kesalahan Developer JavaScript yang Bisa Dihindari dengan TypeScript

5 Kesalahan Developer JavaScript yang Bisa Dihindari dengan TypeScript

2026-03-11

Lima kesalahan yang sering terjadi di proyek JavaScript dan bagaimana TypeScript membantu mencegahnya sejak awal.

7 min read
Read more
Mengapa Programmer Lebih Banyak Laki-Laki Daripada Perempuan? Analisis Data, Sejarah, dan Solusi 2025

Mengapa Programmer Lebih Banyak Laki-Laki Daripada Perempuan? Analisis Data, Sejarah, dan Solusi 2025

2026-02-28

Artikel mendalam dan SEO friendly tentang mengapa programmer lebih banyak laki-laki daripada perempuan, lengkap dengan data global, Indonesia, faktor sosial, sejarah, dan solusi jangka panjang.

7 min read
Read more